Libatkan Siswa dalam Gotongroyong, Hasto Tanamkan Pendidikan Karakter

bupatri Kulon Progo Hasto wardoyo, menyatu dengan anak-anak Sd dan SMP dalam program lantainsasi di Kalinongko, Kedungsari, Selasa 915/8)
bupatri Kulon Progo Hasto wardoyo, menyatu dengan anak-anak SD dan SMP dalam program lantainisasi di Kalinongko, Kedungsari, Selasa (15/8)

PENGASIH – Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo, mengimplementasikan program Pendidikan Karakter dengan melibatkan anak-anak SD Bopkri Kalinongko dan SMP 2 Pengasih untuk ikut dalam kerjbhakti. Ini menjadi salah satu program 100 hari kerja yang dipilih oleh Dinas Pendidikan
“Kami mencoba bagaimana implementasi kurikulum ekstra kurikuler wajib yang namanya pendidikan karakter ini kita terapkan di sekolah. Kita gabungkan antara program gotong royong lantainisasi dengan program pendidikan karakter di sekolah,” tutur Hasto, saat pelaksanaan lantainisasi rumah milik Panut Warga Kalinongko Kedungsari Pengasih, Selasa (15/8/2017).
Para siswa ikut dilibatkan secara aktif dalam kerjabhakti dan gotong royong. Dengan ceria mereka ikut membantu meranting/ mengangkat pasir meskipun sesuai dengan kemampuan. Bahkan para siswa SMP N 2 juga menyerahkan makanan untuk keluarga panut dan ikut menyumbang.
“Anak-anak sekolah terlihat saat ikut ranting pasir/material tidak canggung. Kemudian senang karena anak-anak familier dengan makanan rakyat, bisa makan pisang godhok dengan nikmat,” ujar Hasto.
Program seperti ini akan dilanjutkan di semua sekolah bekerjasama dengan program Baznas, CSR, dan anak sekolah bisa ada jam untuk ekstra kurikuler untuk pendidikan karakter.
“Prakteknya pendidikan karakter adalah seperti berkunjung kepada orang miskin, punya kepedulian sosial, bisa bergotong royong. Pancasila kalau diringkas jadi satu sila namanya gotong royong,” tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, Sumarsana menyampaikan, nilai karakter ada 20, kalau diringkas ada 5 nilai pokok karakter yang pertama religius, nasionalis, mandiri, gotongroyong, integritas.
Dengan ikut gotong royong, anak-anak bisa mengetahui apa gotongroyong. Jika mungkin selama ini hanya mengenal gotong royong kalimat kini mereka tahu bentuk gotong royong ada warga yang kesusahan, ada yang rumahnya belum berlantainisasi, masyarakat bersama-sama, finansial, tenaga, bersama-sama membangun.
“Gotong royong bukan hanya orang tua, anak-anak kita kenalkan gotong royong” kata Sumarsana. Apalagi tugas pendidikan merupakan tanggungjawab semua dinas, bukan hanya Disdikpora. (dys)

Please follow and like us:
, , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *